Saturday, 14 March 2009

[JAKARTA] Berbeda dengan bisnis kehutanan lainnya yang terpukul akibat krisis keuangan di Amerika Serikat (AS), industri mebel Indonesia justru menuai berkah. Pasalnya, pada 2009 dipastikan bakal masuk investasi hingga US$ 250 juta.

"Karena sejumlah perusahaan AS akan mengalihkan investasinya dari Tiongkok ke Indonesia. Mereka menilai, bahan baku kayu di Indonesia lebih melimpah dan kualitasnya juga lebih bagus, sehingga bila dibanding mebel Tiongkok, mebel Indonesia lebih unggul. 

Mebel Indonesia lebih mengutamakan struktur dan kekuatan kayu," kata Ketua Asmindo Ambar Tjahyono, pekan lalu, di Jakarta. 

Ditambahkan, meskipun dari sisi harga mebel Indonesia kalah bersaing dengan mebel buatan Tiongkok, pasar AS lebih memilih mebel dan kerajinan asal Indonesia. 

"Karena yang mereka utamakan adalah kualitas. Mebel buatan Tiongkok, lebih mengutamakan tampilan. Memang, mebel Tiongkok harganya lebih murah. Oleh karena itu, kita membidik pasar ekspor untuk menengah ke atas. Kalau pasar menengah ke bawah, kita jelas kalah bersaing dengan Tiongkok yang bisa pasang harga sangat murah," kata Ambar. 

Mebel dan kerajinan buatan Indonesia diuji kualitas bahan bakunya dan wajib memiliki sertifikat standardisasi terlebih dulu, sebelum mendapatkan izin ekspor. 

Pada bulan ini, sebanyak 125 perusahaan yang tergabung dalam Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) memperoleh sertifikasi produk dan kelayakan ekspor. 

Saat ini, sekitar 27 persen produksi mebel dan kerajinan Indonesia diekspor ke AS. Sebanyak 30 persen untuk pasar Eropa, dan sisanya untuk negara lain dan pasar domestik. Krisis keuangan di AS yang telah meluas ke tingkat global saat ini, diakui Asmindo, berpengaruh pada industri mebel Tanah Air. 

Namun, kalaupun ada pukulan, itu hanya dirasakan industri mebel dan kerajinan skala besar yang memang berorientasi ekspor. 

"Kalau industri skala kecil, seperti yang banyak terdapat di Yogyakarta dan Solo misalnya, tidak terlalu terpengaruh krisis global. Secara keseluruhan, tahun 2008 ekspor mebel dan kerajinan kita malah naik 6,5 persen dibanding tahun lalu. Memang, tahun 2009 diperkirakan akan ada penurunan ekspor, tetapi mudah-mudahan tidak signifikan. Apalagi, kita aktif membidik pasar ekspor selain AS dan Eropa," kata Ambar.

Mengenai sertifikasi produk, menurut Ambar, seluruh anggota Asmindo wajib memilikinya. "Untuk memastikan bahwa produk kita memenuhi standar internasional," tandasnya.


Label 

Selama ini, tidak sedikit perusahaan mebel dan kerajinan nasional yang enggan mencantumkan label made in Indonesia pada produknya. 

"Pengusaha sering melakukan itu untuk meningkatkan harga menjadi berlipat-lipat. Sikap seperti ini justru merugikan bagi perkembangan mebel Indonesia. Konsumen mengira mebel yang berkualitas bagus buatan luar negeri. Padahal, pengusaha sengaja membuat label made in Italia misalnya, untuk produk buatannya, supaya bisa menjual dengan harga tinggi," ungkap Ambar. 

Selain perlunya sertifikasi produk, menghadapi krisis global kini, agar mebel dan kerajinan Indo- nesia tetap bisa bertahan, Asmindo berharap pemerintah melakukan sejumlah langkah. 

Di antaranya, menghapus pajak pertambahan nilai (PPN) terhadap bahan baku rotan dari Sulawesi dan Kalimantan, yang besarnya 10 persen. Selain itu, pemerintah memintakan kepada pihak perbankan agar memberi kelonggarakan tenggat waktu pembayaran kredit.

"Kita berharap, pengembalian pinjaman bisa berjangka 9-12 bulan. Perusahaan mebel membutuhkan waktu paling tidak delapan bulan untuk mencari pasar ekspor baru selain AS. Jadi, di tengah kondisi yang sulit sekarang, kelonggaran waktu pengembalian pinjaman akan sangat menolong pengusaha mebel dan kerajinan nasional," kata Ambar. [H-13]


INILAH.COM, Jakarta – Anjloknya perekonomian Amerika Serikat menjadi sarana pendewasaan bagi pelaku pasar di Indonesia. Selama ini produsen Indonesia sangat tergantung pada pasar negara Paman Sam itu. Kini eksportir mesti pintar-pintar mencari alternatif pasar baru. 

Salah satu pelaku pasar yang pintar menyasar peluang itu adalah pelaku usaha kerajinan dan mebel. Setelah pesanan dari AS menurun drastis kini produsen mebel dan kerajinan Tanah Air mulai melirik peluang dari China. 

Ketua Umum Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono mengatakan, China adalah solusi untuk menggantikan pasar AS yang selama ini berada di posisi tertinggi. China dipilih sebagai alternatif pasar baru karena pertumbuhan ekonomi negara itu yang luar biasa. 

Padahal China merupakan eksportir mebel terbesar tapi hingga kini negara itu masih mengimpor mebel buatan Italia sebanyak 25% dari total konsumsi domestiknya. 

"Orang-orang berduit di China tetap menginginkan produk mebel impor. Mereka tidak peduli dari mana asalnya, termasuk juga dari Indonesia. Hotel-hotel di sana juga sudah banyak yang menggunakan mebel dari Indonesia," kata Ambar, hari ini, di Jakarta.

Sejak 2002 hingga 2006 Indonesia menempati urutan ketiga eksportir produk mebel dunia dengan perolehan pangsa pasar 4,26%. Sedangkan China sebagai eksportir produk mebel utama memiliki market share 15,75%. Urutan kedua hingga keempat ditempati Italia, Polandia, dan Jerman. 

Sedangkan importir mebel terbesar ditempati Amerika Serikat dengan market share 29,93%, dengan nilai mencapai US$ 6,2 miliar di 2006. Pasar mebel dan kerajinan China mampu menyerap produk berbahan baku solid wood maupun plywood. 

Konsumen mebel dan kerajinan China juga lebih menyukai produk yang unik atau aneh. Sehinga mendorong produsen mebel terus melakukan inovasi baik dari sisi desain motif maupun proses finishing. 

Tren mode yang sedang diminati adalah sebuah kecermatan dalam memandang pasar yang harus dipunyai pengusaha mebel dan kerajinan. Saat ini model minimalis masih mendominasi tren yang disukai konsumen. 

Sekretaris Eksekutif Asmindo Jawa Timur, Chilman Suaidi, mengatakan perlu kontribusi dari seluruh pemangku kepentingan agar industri mebel Indonesia bisa lebih kompetitif. “Kita harus merangkul China sebagai calon konsumen potensial. Tapi juga jangan lupa bahwa mereka harus dipandang sebagai kompetitor,” tegas Chilman. 

Dari sisi kualitas produk, kata Chilman, mebel buatan Indonesia jauh lebih baik karena menggunakan kayu tropis berkualitas prima. Sedangkan kualitas kayu dari produk mebel China tidak sebaik Indonesia karena merupakan produk massal. 

Ketersediaan bahan baku produk mebel relatif tidak ada masalah. Dari sisi pasokan kini pengusaha mebel sudah dilindungi peraturan yang mengikat bahwa kayu hasil hutan tidak boleh diekspor dalam bentuk log atau gelondongan. Hal itu demi menjamin nilai tambah bagi pendapatan negara.

ROLAND ADAM

Seberapa jauh masyarakat dapat menghargai rancangan asli desain sebuah mebel atau furnitur? Apakah rancangan asli masih "dihargai" sama dengan para peniru desain tersebut, atau sebagian orang sudah mulai membedakannya?

Semestinya, dengan semakin banyaknya majalah furnitur dan interior yang beredar di pasaran, baik merupakan produk lokal maupun impor, juga buku interior yang khusus mengupas berbagai hal seputar furnitur, masyarakat pun semakin memahami arti sebuah rancangan asli atau original design.

Sebagian negara, terutama negara maju, rancangan asli sebuah mebel bisa mendapatkan hak paten. Kreativitas si perancang dihargai, diakui, dan dilindungi hukum bila kedapatan ada orang atau pihak lain yang mencontek rancangan asli yang telah diberi hak paten tersebut. Belakangan ini, sebagian perancang mebel Indonesia juga sudah mulai mendaftarkan hasil rancangan mereka walaupun dengan tersendat-sendat.

Namun, cepatnya perkembangan mebel buatan Indonesia dengan kualitas relatif bagus dan rancangan yang lebih beraneka ragam, membuat masyarakat semakin leluasa dan mudah memilih mebel yang cocok dengan rumah atau ruang kerja, sesuai gaya atau selera pribadi mereka masing-masing.

Rancangan mebel modern berkesan "canggih", seperti banyak menggunakan bahan baku kulit, kaca, aluminium, dan stainless steel, pada sekitar dua dekade lalu masih sulit dibuat di Indonesia. Begitu pula dengan rancangan mebel klasik yang biasanya menggunakan kayu sebagai bahan utama. Mebel klasik termasuk banyak peminatnya karena dihiasi berbagai motif ukiran yang halus pembuatannya, atau veneer yang beraneka ragam motifnya. Rancangan mebel klasik biasanya juga berkesan megah dan mewah.

Namun, berbagai bentuk dan bahan baku mebel modern dan klasik semacam itu, sekarang bukan lagi menjadi barang eksklusif dan mewah. Orang dengan mudah bisa mendapatkannya di berbagai toko mebel biasa yang tersebar di berbagai pelosok kota, sampai di mal bergengsi dan pada pameran-pameran furnitur.

Namun tetap saja, tak semua orang memilih mebel buatan lokal karena mebel impor yang dipajang di ruang-ruang tertentu dan berkesan sangat eksklusif itu pun menjamur, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Artinya, di Indonesia tetap ada konsumen tertentu untuk mebel impor eksklusif semacam itu.

Bagaimanapun tak bisa dimungkiri bahwa sebagian mebel impor tersebut memang lebih berkualitas dan pasti jauh lebih mahal harganya dibandingkan dengan buatan lokal. Apalagi bila mebel itu merupakan produk impor dengan nama besar dan terkenal.

Desain orisinal

Meniru desain mebel memang relatif mudah. Padahal, seorang perancang mebel biasanya memerlukan waktu lama dengan segenap percobaan-percobaan sebelum akhirnya berhasil membuat desain yang bisa diterima pasar.

Agar terus berkembang, seorang perancang mebel harus selalu mencari ide baru yang bisa dituangkan dalam rancangan lewat gambar (sketch). Dari gambar itu lalu dibuat gambar kerja yang menyangkut ukuran dan material yang akan digunakan.

Proses tersebut memerlukan berbagai perubahan, sebelum gambar itu bisa diwujudkan dalam bentuk produk yang bisa digunakan. Ini dimulai dengan pembuatan produk awal yang sering disebut sebagai prototipe. Produk awal biasanya masih mempunyai banyak kekurangan.

Pada tahap ini, perancang mencoba kekuatan, kenyamanan, dan keindahan produk. Kadang kala perancang masih harus membuat beberapa prototipe, sebelum akhirnya bisa menghasilkan mebel yang dirasakan paling sempurna.

Oleh karena itulah, waktu dan biaya yang harus dikeluarkan perancang mebel untuk membuat suatu produk tidak dapat ditentukan dari awal. Di sinilah hak paten berperan penting dalam melindungi rancangan itu dari produsen atau pabrik mebel yang gemar meniru karya para perancang mebel.

Meniru desain mebel memang jalan pintas yang tidak membuang waktu, tenaga, maupun biaya. Bila suatu rancangan mebel baru sudah terpajang di pasaran, seakan si perancang juga harus siap mental kalau tak lama lagi desain mebel yang dihasilkannya akan memunculkan mebel-mebel tiruan serupa dengan harga lebih murah.

Sulit untuk menuding siapa yang bersalah dalam hal ini, tiru-meniru semacam itu. Masyarakat mempunyai kebebasan dalam membeli suatu mebel yang cocok dengan selera dan kemampuan mereka. Penjual mebel juga berhak menyediakan bermacam jenis mebel yang harganya terjangkau setiap lapisan masyarakat.

Di sisi lain, keadaan itu juga mengharuskan perancang mebel untuk terus-menerus kreatif menghasilkan desain baru kalau tak ingin "kalah" dengan produk tiruan yang dengan cepat menguasai pasar. Keberadaan desain baru itulah yang kemudian bisa menjadi tren desain interior masa kini.

Dua jenis mebel

Sebagai perancang interior, tak jarang klien meminta pertimbangan dengan membawa buku atau majalah interior sebagai referensi tatanan ruang dan jenis mebel apa yang mereka inginkan.

Dalam merancang interior, ada dua jenis mebel yang digunakan, yaitu lose furniture dan custom made. Lose furniture adalah mebel siap pakai yang dapat dibeli dan tersedia di pasaran, sedangkan custom made adalah mebel yang dibuat sesuai ukuran ruang dalam suatu rancangan interior. Kedua kategori ini sudah jamak digunakan, baik dengan cara meniru maupun merancang desain mebel itu secara khusus.

Pilihan mebel siap pakai sangat luas dan tak terbatas, bergantung pada kualitas dan kemampuan tiap-tiap orang. Menjadi dilema bagi perancang interior bila klien menginginkan mebel yang persis sama seperti gambar di majalah, atau dalam katalog yang jelas-jelas hasil rancangan asli seorang desainer produk atau sebuah toko mebel.

Tentunya saya akan berusaha untuk menawarkan mebel asli atau membuat rancangan lain yang khusus untuk keperluan klien. Bagaimanapun, tingkat kepuasan seseorang akan berbeda bila dia menggunakan mebel rancangan asli dibandingkan dengan sekadar tiruan. Apalagi bila ini dikaitkan dengan citra yang ingin ditampilkan lewat penataan ruang di rumah maupun tempat kerjanya.
ROLAND ADAM Desainer Interior - Sumber: KCM