"Karena sejumlah perusahaan AS akan mengalihkan investasinya dari Tiongkok ke Indonesia. Mereka menilai, bahan baku kayu di Indonesia lebih melimpah dan kualitasnya juga lebih bagus, sehingga bila dibanding mebel Tiongkok, mebel Indonesia lebih unggul.
Mebel Indonesia lebih mengutamakan struktur dan kekuatan kayu," kata Ketua Asmindo Ambar Tjahyono, pekan lalu, di Jakarta.
Ditambahkan, meskipun dari sisi harga mebel Indonesia kalah bersaing dengan mebel buatan Tiongkok, pasar AS lebih memilih mebel dan kerajinan asal Indonesia.
"Karena yang mereka utamakan adalah kualitas. Mebel buatan Tiongkok, lebih mengutamakan tampilan. Memang, mebel Tiongkok harganya lebih murah. Oleh karena itu, kita membidik pasar ekspor untuk menengah ke atas. Kalau pasar menengah ke bawah, kita jelas kalah bersaing dengan Tiongkok yang bisa pasang harga sangat murah," kata Ambar.
Mebel dan kerajinan buatan Indonesia diuji kualitas bahan bakunya dan wajib memiliki sertifikat standardisasi terlebih dulu, sebelum mendapatkan izin ekspor.
Pada bulan ini, sebanyak 125 perusahaan yang tergabung dalam Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) memperoleh sertifikasi produk dan kelayakan ekspor.
Saat ini, sekitar 27 persen produksi mebel dan kerajinan Indonesia diekspor ke AS. Sebanyak 30 persen untuk pasar Eropa, dan sisanya untuk negara lain dan pasar domestik. Krisis keuangan di AS yang telah meluas ke tingkat global saat ini, diakui Asmindo, berpengaruh pada industri mebel Tanah Air.
Namun, kalaupun ada pukulan, itu hanya dirasakan industri mebel dan kerajinan skala besar yang memang berorientasi ekspor.
"Kalau industri skala kecil, seperti yang banyak terdapat di Yogyakarta dan Solo misalnya, tidak terlalu terpengaruh krisis global. Secara keseluruhan, tahun 2008 ekspor mebel dan kerajinan kita malah naik 6,5 persen dibanding tahun lalu. Memang, tahun 2009 diperkirakan akan ada penurunan ekspor, tetapi mudah-mudahan tidak signifikan. Apalagi, kita aktif membidik pasar ekspor selain AS dan Eropa," kata Ambar.
Mengenai sertifikasi produk, menurut Ambar, seluruh anggota Asmindo wajib memilikinya. "Untuk memastikan bahwa produk kita memenuhi standar internasional," tandasnya.
Label
Selama ini, tidak sedikit perusahaan mebel dan kerajinan nasional yang enggan mencantumkan label made in Indonesia pada produknya.
"Pengusaha sering melakukan itu untuk meningkatkan harga menjadi berlipat-lipat. Sikap seperti ini justru merugikan bagi perkembangan mebel Indonesia. Konsumen mengira mebel yang berkualitas bagus buatan luar negeri. Padahal, pengusaha sengaja membuat label made in Italia misalnya, untuk produk buatannya, supaya bisa menjual dengan harga tinggi," ungkap Ambar.
Selain perlunya sertifikasi produk, menghadapi krisis global kini, agar mebel dan kerajinan Indo- nesia tetap bisa bertahan, Asmindo berharap pemerintah melakukan sejumlah langkah.
Di antaranya, menghapus pajak pertambahan nilai (PPN) terhadap bahan baku rotan dari Sulawesi dan Kalimantan, yang besarnya 10 persen. Selain itu, pemerintah memintakan kepada pihak perbankan agar memberi kelonggarakan tenggat waktu pembayaran kredit.
"Kita berharap, pengembalian pinjaman bisa berjangka 9-12 bulan. Perusahaan mebel membutuhkan waktu paling tidak delapan bulan untuk mencari pasar ekspor baru selain AS. Jadi, di tengah kondisi yang sulit sekarang, kelonggaran waktu pengembalian pinjaman akan sangat menolong pengusaha mebel dan kerajinan nasional," kata Ambar. [H-13]